Dampak Bisnis Jembatan Selat Sunda Luar Biasa

17 Juli 2013

Pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera sepanjang 2.771 kilometer dimulai  pada September 2013. Pembangunan diawali pada 4 ruas dari 23 ruas dengan  biaya Rp34 triliun. Demikian pula proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) yang digagas oleh Presiden Soekarno (1960) sedang dimatangkan. Panjang JSS mencapai 31 kilometer, tinggi jembatan dari permukaan air laut 75 meter, panjang bentang utama 2.750 meter dan 2.500 meter.

Pembangunan proyek JSS yang akan dimulai pada Oktober 2014 itu menelan biaya Rp200 triliun. Persoalan yang harus dijawab adalah, bagaimana mengatasi pengaruh arus, gelombang, pasang surut, dan kekuatan angin serta guncangan letusan Gunung Anak Krakatau pada tiang-tiang dan badan jembatan? Apa jenis teknologi yang digunakan?

Menghubungkan Sumatera-Jawa

Tujuh tahun lagi dari tahun 2013,  ujung Utara (Aceh) dan ujung Selatan (Lampung) pulau Sumatera akan dapat kita jelajahi melalui jalan tol. Daerah-daerah yang dilintasi jalan tol itu—disebutkan sebagai jalan Trans-Sumatera—bakal mengalami berbagai perubahan—utamanya bidang ekonomi, bisnis,  dan sosial.

Pembangunan proyek JSS akan berdampak signifikan bagi masyarakat di kawasan yang dilintasi Trans-Sumatera. Semua biaya yang dialokasikan untuk membiayai proyek Trans-Sumatera itu berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kendati pembangunan JSS dipertanyakan beberapa ahli—mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang sebaiknya pembangunan sarana transportasi kelautan yang diperkokoh seperti diusulkan oleh para ahli—tampaknya ide Soekarno untuk menghubungkan pulau Sumatera-Jawa tinggal menunggu waktu. Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan bahwa pembangunan JSS bukan sekadar proyek jembatan yang akan diwujudkan.

Proyek JSS meliputi pembangunan kawawasan industri (seperti pariwisata, properti, dan sebagainya) dan jembatan (transportasi darat—termasuk kereta api). Grup Artha Graha miliknya pengusaha Tommy Winata yang ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan JJS,  akan bekerja sama dengan BUMN, provinsi Lampung, dan Banten.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Krimanto menandaskan, bahwa  JSS dan kawasan industri Selat Sunda di sekitarnya layak dibangun secara teknis.  Ia merujuk hal itu pada hasil kajian awal yang dipimpin oleh Kementerian PU bekerja sama dengan tenaga ahli asing.
Sekretariat Kementerin PU telah melakukan berbagai aspek kajian meliputi aspek angin,  geologi,  gempa,  vulkanologi dalam tahap awal.  Secara teknis pembangunan layak dilaksakan tandas Djoko Kirmanto seraya menambahkan,  hasil kajian timnya digunakan untuk studi kelayakan (feasibility study) lanjutan yang kemungkinan besar bisa dikerjakan oleh grup Artha Graha bekerja sama  dengan BUMN.

Akan tetapi, guru Besar Oseanografi Institut Pertanian Bogor, Mulia Purba mengingatkan melalui KOMPAS, agar ke dalam permodelan JSS dimasukkan faktor arus, gelombang, pasang surut, dan kekuatan angin minimal selama periode 10-15 tahun.

Dia menambahkan bahwa tiang-tiang JSS akan mendapat pukulan gelombang setiap saat. Kekuatan arus di Selat Sunda pun harus diperhitungkan untuk menghindari bencana pada masa depan. Begitu juga aktivitas Gunung Karakatau yang masih aktif.

Untuk mengatasi hantaman gelombang laut pada tiang-tiang JSS, menurut Purba, dapat digunakan teknologi dan inovasi dengan membangun suatu pelindung kawasan pantai.

Perlindungan terhadap wilayah pantai dapat dilakukan asalkan pemerintah atau investor mampu menyediakan biaya yang besar. Kalau pantai kawasan pantai tidak dilindungi, masyarakat menjadi korban. Oleh karena itu, perhitungan harus dilakukan secara cermat dan rinci.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum yang juga Kepala Sekretariat Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda, Hermanto Darnak menjelaskan bahw JSS tahan terhadap guncangan yang disebabkan letusan Gunung Anak Krakatau.

Ia mengakui bahwa  JSS akn dibangun di di kawasan vulkanik, tektonik, dan gempa bumi yang sangat aktif. Oleh karena itu, sebelum pembangunan JSS dikakukan berbagai studi, analisis, dan kajian untuk mengetahui risiko dan bahaya khususnya potensi bencana yang ditimbulkan gempa bumi, dan bencana-bencana turunannya.

Masterplan ASEAN Community

Pembangunan jalan baru  yakni Trans-Sumatera atau disebut High Grade Highway (HGH) akan dikebut oleh pemerintah.  Proyek pengerjaan jalan baru sepanjang  2.771 kilometer itu akan menghubungkan Provinsi Aceh hingga Lampung.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mentargetkan pembangunan jalan baru itu akan rampung pada tahun 2020.  Trans-Sumatera tidak hanya berfungsi bagi Indonesia,  dan merupakan jalan  pertama  yangh berfungsi bagi masyarakat internasional utamanya bagi warga negara-negara anggota ASEAN .

Menurut  Hatta, JSS termasuk dalam Masterplan ASEAN Community yang salah satu wujudnya adalah pembangunan JSS.

Hatta menjelaskan bahwa pembangunan 23 ruas dari Aceh sampai Lampung termasuk ruas Batam adalahMasterplan ASEAN Community  yang berkualitas standar internasional.  Untuk tahap awal,  ada beberapa ruas yang segera akan dikerjakan karena proses pembebasan lahan telah rampung.

Ruas pertama yang sudah siap lahannya adalah Riau menuju Dumai kemudian Kuala Namu,  Lampung,  dan Palembang. Mulai September 2013 siap groundbreaking dan secara bertahap akan diteruskan ke 23 ruas tersebut.  (Diolah dari berbagai sumber seperti KOMPAS dan tender-indonesia.com)

Sumber: http://www.mmindustri.co.id/dampak-bisnis-jembatan-selat-sunda-luar-biasa/ 

add comment :

Message