Di Jerman, SBY Tegaskan Kelanjutan Jembatan Selat Sunda

21 Maret 2013

Berlin. Meski saat ini masih terjadi kontroversi, pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) harus tetap direalisasikan untuk mengakselarasi pembangunan Sumatera dan Jawa. Seperti tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pemerintah serius mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi  untuk menciptakan konektivitas dan melancarkan logistik.

"Memang saat ini ada sedikit kontroversi. Tapi, JSS harus kita bangun karena sangat strategis dalam jangka panjang," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara Silaturahim Presiden dengan  Diaspora  Indonesia di Jerman, Selasa (5/3) waktu setempat.

Hadir pada kesempatan itu sekitar 60 orang yang datang dari berbagai negara Eropa selain Jerman. Sebagian dari mereka adalah tenaga  ahli yang bekerja di konsorsium industri penerbangan Eropa Airbus, dosen dan profesor di sejumlah perguruan tinggi, periset,  pekerja, dan mahasiwa.

Manfaat pembangunan JSS, kata Presiden, akan dirasakan pada masa anak cucu. Karena itu, perbedaan pandangan akan segera diatasi agar JSS bisa mulai dibangun. Salah satu solusi untuk membantu pengembalian biaya JSS adalah pengembangan kawasan Lampung dan Banten.

"Kalau hanya jembatan yang dibangun, investasi sulit kembali. Karena itu kawasan sekitar jembatan akan dikembangkan agar bernilai komersial," papar Presiden.

Empat tahun lalu, kata Presiden, pihak Malaysia meminta persetujuannya untuk menyambungkan Dumai dan Semenanjung Malaysia. 

"Saya tolak. Saya tahu, kalau jembatan Sumatera-Malaysia yang dibangun, kekayaan Sumatera akan habis tersedot ke Asia. Saya prioritaskan pembangunan jembatan di dalam negeri. Menyambungkan lebih dulu Sumatera dan Jawa agar kedua wilayah bisa saling mendukung dan bergerak maju lebih cepat," ungkap SBY.

Di Banten, kata SBY, ada PT Krakatau Steel (KS), perusahaan milik negara,  dan Cosco, perusahaan Korea Selatan. Kedua perusahaan ini sangat dibutuhkan Indonesia. Di dunia, industri baja disebut mother industry karena baja adalah industri dasar yang menentukan sukses berbagai jenis industri. Korsel, Jepang, dan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat maju karena mereka maju di bidang industri baja.​
 
Butuh Insinyur
 
Dua ahli dari diaspora Indonesia di Jerman memaparkan tentang solusi membangun energi, ketersediaan air, logistik, dan transportasi di Indonesia. Pemaparan mereka berdasarkan riset ilmiah.
 
Merespons para diaspora yang ahli di sejumlah bidang itu, Presiden menegaskan, Indonesia membutuhkan banyak tenaga engineers yang ahli di bidang sumber daya air, energi, lingkungan, transportasi, dan energi. Indonesia mengalami masalah besar di bidang ini.
 
Jerman, kata Presiden, sangat terkenal di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ia mendukung rencana para diaspora Indonesia untuk memposisikan diri sebagai center of excellence. Pada masa akan datang, dunia akan mengalami masalah besar di bidang sumber daya air, energi, lingkungan, dan pangan. Indonesia harus mengantisipasi krisis itu yang pada kadar tertentu sudah mulai dirasakan.
 
Transportasi dan logistik diakui SBY sebagai kendala besar Indonesia selain infrastruktur secara umum, kepastian hukum, dan kualitas birokrasi.
 
"Kalau kita bisa benahi ini, pertumbuhan ekonomi kita akan terbang tinggi. Dengan berbagai kendala ini saja, ekonomi Indonesia tahun 2012  bertumbuh 6,2%," ungkap Presiden.
 
Dalam pertemuan dengan Walikota Berlin, Presiden meminta kesediaan pemerintah kota Berlin untuk bekerja sama dengan pemerintah kota di Indonesia di bidang waste management. Kota-kota di Indonesia umumnya kotor, penuh sampah, bau, macet, dan berdebu. Lewat kerja sama, kita bisa membangun kota-kota di Indonesia, kata Presiden.
 
"Membangun Indonesia tidak selamanya harus tinggal di Indonesia. Di mana pun Anda tinggal tidak soal. Yang penting bisa ikut membangun Indonesia. Tapi, jika negara membutuhkan, harus kembali dan pemerintah Indonesia tidak boleh asal memanggil Anda pulang jika tidak ada tugas yang jelas," kata Presiden.
 
Penulis: P-12/HA - http://www.beritasatu.com

add comment :

Message