Jembatan Selat Sunda, Kebutuhan Transportasi Mendesak

30 November 2013

Serang - Pemerintah memogramkan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera agar arus transportasi kedua wilayah itu lebih lancar.

Wakil Ketua Umum Kadin Banten Bidang Telekomunikasi, Teknologi, dan Konsultan Deden Syaiful Achyar di Serang, menyatakan pembangunan JSS merupakan kebutuhan mendesak, sebagai salah satu infrastruktur penghubung Pulau Jawa dan Sumatera.

"Pertumbuhan di Pulau Jawa dan Sumatera sangat pesat, jadi perlu didukung sarana transportasi memadai, dan pembangunan JSS merupakan salah satu solusinya," katanya.

Karena itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Banten mendorong terwujudnya JSS tersebut, sebagai upaya melengkapi kelemahan dari penyeberangan kapal ferry yang ada saat ini diantaranya sering terkendala cuaca.

Pelayanan transportasi barang, orang, dan jasa antara Pulau Jawa dan Sumatera melalui penyeberangan kapal semakin tidak optimal, sehingga sering terjadi antrean panjang di Pelabuhan Merak dan Bakauheni Lampung.

Pembangunan JSS, kata dia, tidak menghilangkan keberadaan kapal fery, namun sebagai penunjang dan pelengkap pelayaran kapal fery antara pelabuhan Merak dan Bakauheni.

Ia juga menyatakan, berdasarkan data BPS nasional, 78%  kontribusi PDB dalam struktur ekonomi tahun 2010 berasal dari Pulau Jawa dan Sumatera. Namun, aktivitas ekonomi yang luar biasa tersebut, kurang ditunjang oleh infrastruktur transportasi dan aksesbilitas.

Berdasarkan fakta terkini jarak antara Pelabuhan Merak dan Bakauheni sekitar 36 Km, dengan waktu tempuh antara 1,5 hingga 2,5 jam untuk satu kali penyeberangan. Sedangkan untuk satu kali penyeberangan, kapal ferry hanya mampu mengangkut kurang lebih 1.000 penumpang, 120 kendaraan roda empat, dan 20 truk tonase besar.

"Apabila JSS dibangun, maka sarana angkutan barang dan jasa antara Jawa dan Sumatera sangat efektif dan efesien. Bahkan relatif bebas dari hambatan cuaca buruk dan gelombang tinggi," kata Deden.

Selain itu, kata dia, manfaat lainnya adalah mempersingkat waktu tempuh perjalanan, dan biaya distribusi barang-barang pokok dari Pulau Jawa dan Sumatera lebih efisien. Kemudian, meningkatkan arus transportasi kendaraan antara Pulau Jawa dan Sumatera.

Direktur PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) Winarjono mengatakan hingga saat ini status pembangunan JSS masih stagnan. Karena, pemerintah pusat belum ada kepastian mengenai feasibility study (FS) pembangunan Jembatan Selat Sunda, apakah dikerjakan pemerintah atau swasta.

"Sejauh ini belum ada 'guidelines' dari pemerintah kepada konsorsium, sebab JSS statusnya masih stagnan. PT GBLS masih menunggu arahan dari pemerintah apakah pembangunan JSS ini dilanjutkan atau bagaimana," kata Winarjono.

Menurutnya, kemungkinan besar 'groundbreaking' JSS tidak bisa dilakukan pada 2014. Pelaksanaan 'groundbreaking' akan mundur dan kemungkinan dilakukan pertengahan tahun 2015.

Namun demikian, pihaknya tidak berhenti untuk mendorong mewujudkan pembangunan JSS.

Saat ini, pihaknya sudah melakukan langkah-langkah yaitu melakukan kerja sama baik nasional maupun internasional dengan bekerja sama di tingkat Nasional dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi seperti ITB, UGM, UI, Unila, Untirta dalam rangka melakukan kajian-kajian pendukung pembangunan JSS.

"Saat ini kami konsen dalam melakukan kajian untuk pembangunan Kawasan Strategis Industri Selat Sunda (KSISS) sebagai sarana pendukung dari JSS," kata Winarjono.

FS-nya Rampung 2014 Menteri Koordiantor Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan Feasibility Study (FS) pembantunan Jembatan Selat Sunda, yang menghubunkan PUlau Jawa dan Sumatera, ditargetkan selesai 2014.

"Sekarang FS Jembatan Selat Sunda (JSS) itu dalam pembahasan, dan penyususnan FS-nya sendiri diharapkan dapat selesai 2014," katanya saat berkunjung ke Pandeglang, Banten, belum lama ini.

Untuk penyusunan FS JSS tersebut, kata dia, tim tujuh telah mengeluarkan rekomendasi dengan bebarapa opsi, yakni dilaksanakan oleh konsorsium perusahaan, pemerintah atau badan usaha milik negara (BUMN).

"Kalau pemerintah jelas tidak mungkin karena juga tidak memungkinkan menggunakan dana APBN untuk kegiatan tersebut, jadi ada kemungkinan akan diserahkan pada perusahaan penggagas plus BUMN," ujarnya.

Hatta juga menjelaskan, untuk penyususnan FS JSS dibutuhkan anggaran cukup besar, yakni berkisar Rp 1,2 triliun, sedangkan untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan Provinsi Banten dengan Provinsi Lampung tersebut dibutuhkan anggaran sekitar Rp 200 triliun.

"Anggaran yang dibutuhkan sangat besar, dan kenapa tetap akan dilaksanakan karena dalam proyek itu bukan hanya membangun jembatan dan lebih dari itu, yakni membantu satu kawasan ekonomi yang strategis," ujarnya.

Pembangunan JSS, kata dia, setidaknya akan mendorong berkembangkan delapan-sembilan kawasan ekonomi di Banten dan Sumatera, diantaranya kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Guna mendorong pertumbuhan kawasan-kawasan ekonomi di Sumatera dan Banten itu, kata dia, pemerintah juga telah memogramkan pembangunan tiga jalan tol di Sumatera, yakni di Lampung, Sumatera Selatan dan Dumai.

"Anggaran untuk pembangunan tiga jalan tol tersebut mencapai Rp5 triliun, dan Rp2 triliun diantaranya akan kita serahkan tahun ini pada BUMN sedangkan Rp 3 triliun sisanya diberikan 2014," ujarnya.

Terkait dengan kelayakan pembangunan JSS, menurut dia, dari berbagai kajian dan studi yang telah beberapa kali dilaksanakan, dengan mempertimbangkan berbagai hal, dinyatakan sangat layak.

"Studi pembangunan JSS ini sudah lama dilakukan, bahkan sejak zaman Presiden Bung Karno, dan memang sangat layak. Tugas kita sekarang harus merealisasikan pembangunannya," katanya.

Kawasan Penunjang Pemerintah Provinsi Banten dan Lampung bersama konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) menyusun langkah-langkah untuk merealisasikan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS), dengan melakukan kajian untuk pengembangan kawasan penunjang.

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, belum lama ini mengatakan Provinsi Banten dengan Konsorsium PT GBLS sudah membahas mengenai tindaklanjut rencana pembangunan JSS dengan melakukan langkah sesuai dengan aturan yang ada.

Langkah tersebut yakni memulai dengan membuat Feasibility Study (FS) untuk kawasan pertumbuhan yang akan dibangun di wilayah Banten untuk menunjang JSS sambil menunggu keputusan dari pusat.

"Apa yang kami lakukan nanti untuk memulai JSS ini, tentunya tidak melebihi batas kewenangan. Sebab yang akan dimulai yakni untuk mempersiapkan kawasan pertumbuhan dari JSS tersebut," kata Ratu Atut Chosiyah usai melakukan rapat kordinasi dengan kabupaten/kota, perwakilan Provinsi Lampung, PT GBLS serta sejumlah pihak terkait di Pendopo Gubernur Banten.

Ia mengatakan, dari FS tersebut nantinya untuk menentukan pembangunan kawasan pertumbuhan di wilayah Banten, dan tidak menutup kemungkinan nanti hasil FS termasuk untuk menentukan lokasi pemancangan pembangunan JSS yang rencananaya akan dilakukan 2014. Selain Banten, untuk memulai langkah tersebut Provinsi Lampung juga melakukan hal yang sama.

Ia mengatakan, apa yang dilakukan dari langkah-langkah untuk memulai proses pembangunan JSS tersebut tidak boleh keluar dari kewenangan Banten dan juga daerah yang nantinya akan termasuk kawasan pengembangan JSS seperti Kota Cilegon, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.

Ia juga mengatakan, lahan-lahan yang dipersiapkan untuk kawasan pertumbuhan untuk menunjang JSS tersebut, harus lahan yang pilihan seperti tidak termasuk hutan lindung dan daerah yang aman dari banjir.

Asisten II Sekretariat Provinsi Banten Husni Hasan mengatakan berdasarkan Perpres 86/2011 tentang pengembangan KSISS, pemerintah pusat diamanatkan untuk menyusun fesibility study (FS). Akan tetapi, hingga saat ini belum ada tindak lanjut.

Kemudian, kata dia, gubernur se-Sumatera sudah menyepakati agar rencana tersebut cepat terealisasi termasuk terkait pembangunan tol Sumatera. Pembangunan tol Sumatera tersebut diperlukan untuk menyesuaikan apabila Jembatan Selat Sunda sudah benar-benar terbangun.

Sumber: http://www.beritasatu.com/ekonomi/152827-jembatan-selat-sunda-kebutuhan-transportasi-mendesak.html 

add comment :

Message