Jembatan Selat Sunda Mimpi 52 Juta Warga Sumatera

19 November 2013

Bandar Lampung, GATRAnews - Impian 52 juta lebih warga di Pulau Sumatera terhubung dengan Pulau Jawa melalui sebuah jembatan, bak jauh panggang dari api. Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang dicetuskan pada 1960 ini, urung dilakukan pada 2014 karena berbagai hal. Tika, warga Bandar Lampung yang memimpikan dibangunnya JSS, menuturkan jika seluruh penduduk Sumatera membutuhkan jembatan itu.

Alasannya sederhana, kondisi Pelabuhan Bakauheni di sisi Sumatera sudah tidak layak. "Menyebrang ke Jawa nunggu 2-3 jam, antri dengan truk sembako. Bayangkan saja, kalau ada jembatan yang terintegrasi dengan kereta api pasti tidak akan sepayah ini," tuturnya kepada GATRAnews saat menghadiri ekspos JSS, pekan lalu. 

Perempuan yang bekerja di media cetak lokal Lampung ini, berharapn jika kemegahan JSS sepanjang 29 kilometer dapatbmengubungkan Sumatera dan Jawa. Terlebih diintegrasikan juga dengan moda transportasi rel, Kereta Api (KA). Tak hanya Provinsi Lampung yang akan tumbuh pesat dengan adanya JSS. Tetapi, sembilan provinsi lainnya akan ikut tumbuh karena Sumatera menyumbang perekonomian nasional 22,37% dari berbagai sektor termasuk pertambangan dan perkebunan. "Lampung itu sangat potensial, tidak hanya kami. Sumatera Selatan banyak Batu Bara, perkebunan di kita luas, ini yang belum tergarap maksimal dan perlu digenjot lagi," ujarnya. 

Mimpi Tika akan Jembatan Selat Sunda (JSS) juga diamini Gubernur Provinsi Lampung, Sjachroedin ZP. Kepada awak media dari Jakarta, ia berkeluh kesah padatnya lalu lintas air dan udara antara Lampung dan Banten (Jawa). Perjalannya dari Jakarta melalui udara menuju kampungnya di Bandar Lampung harus ditempuh dalam waktu 2,5 jam. 

Dua jam keterlambatan karena full traffic sedangkan jarak tempuh sebenarnya hanya 30 menit alias setengah jam. "Ini bukti kalau Jawa dan Sumatera perlu alternatif transportasi. Air dan udara padat dan tidak bisa diuraikan seketika, JSS adalah solusinya. Jakarta - Lampung pakai pesawat palingan 25 menit aslinya," ujar Sjachroedin. 

Pensiunan polisi dengan pangkat Komisaris Jendral (bintang tiga) ini menuturkan kondisi Pelabuhan Bakauheni yang over capacity. Pada 2012, sebanyak 1.885.339 kendaraan dan akhir 2017 diperkirakan mencapai 2,9 juta unit dengan pertambahan 8,11% setiap tahunnya. 

Moda transportasi yang disediakan pemerintah saat ini tidak bisa mendukung pertumbuhan pelintas Jawa - Sumatera. Sebanyak 48 kapal feri yang ada sudah uzur, tidak bisa memenuhi melesatnya pertumbuhan ekonomi Lampung dan provinsi lainnya di region Sumatera.  

Sjachroedin mengibaratkan, Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera yang tidak dirawat oleh Pemerintah Pusat. Akibat moda transportasi yang minim pilihan, per hari Rp 60 miliar lebih menguap akibat mengantri di Bakauheni untuk menyebrang ke Jawa.  

Melalui Lampung, setiap harinya 40 - 60 ribu ton mengalir ke Pulau Jawa untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri. Produk-produk lain, seperti Kelapa Sawit, Kopra, Lada dan Kopi juga tak jarang tertahan akibat buruknya transportasi. 

Orang nomor satu di Lampung ini bahkan sempat iri kepada Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura. Sumatera merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat. "Suramadu itu hanya menghubungkan lima kabupaten dengan Jawa. kita 10 provinsi minta dibuatkan Jembatan tidak ada kejelasan, ekonomi Sumatera terhadap pertumbuhan nasional tidak sedikit, apa artinya kita ini," keluhnya kepada GATRAnews. (*/Zak)

Sumber: http://www.gatra.com/nusantara-1/sumatera-1/42585-jembatan-selat-sunda-mimpi-52-juta-warga-sumatera.html 

add comment :

Message