Selat Sunda, bukan sekedar jembatan

22 Agustus 2013

(WIN): Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (11/7/13) memastikan bahwa Artha Graha Network disetujui untuk menyusun studi kelayakan lebih mendetil lagi  tentang pengembangan kawasan dan infrastruktur Selat Sunda. Selain itu juga mendapatkan jaminan konsesi berupa hak pengelolaan kawasan di Provinsi Banten dan Lampung.

Substansi keputusan yang dijelaskan Hatta Rajasa ini pernah ditentang oleh Menkeu Agus DW Martowardojo (saat ini menjabat Gubernur Bank Indonesia). Namun, keputusan final pemerintah yang diumumkan Menko Perekonomian itu bisa disebut green light, bahwa kontroversi mega proyek bernilai investasi Rp150 %u2013 200 triliun itu sudah selesai, dan Korporasi milik Tomy Winata siap menjalankannya.

Studi kelayakan tentang pengembangan kawasan strategis dan infrastruktur Selat Sunda dilakukan oleh konsorsium Banten-Lampung, terdiri dari badan usaha milik daerah (BUMD) Provinsi Banten, BUMD Provinsi Lampung, dan Artha Graha Network melalui PT Bangungraha Sejahtera Mulia serta Wiratman and Associates.

Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum yang mendampingi Hatta Rajasa saat keputusan pemerintah diumumkan, menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan serangkaian kajian awal tentang berbagai aspek, seperti faktor arus laut, gempa, dan letusan gunung %u2013 mengingat di kawasan itu ada anak gunung Krakatau. %u201DIntinya kami yakin jembatan itu secara teknis layak. Baik secara finansial, ekonomi, dan lingkungan,%u201D kata Djoko Kirmanto.

Artinya, mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) bukan lagi sekedar mimpi, tapi pembangunannya segera akan diwujudkan. Dari aspek panjang jembatan, JSS akan memiliki panjang sekitar 31 Km (31.000 meter). Secara teknik sudah banyak di dunia ini dibangun jembatan yang panjangnya melebihi JSS, artinya bisa dikerjakan, diantaranya:

        Bridge Donghai, panjang 32.500 meter, Jembatan terpanjang di Asia dan juga jembatan terpanjang yang melintasi lautan, terletak di Shanghai, China.

        Jembatan Lake pontchartrain, panjang 38.420 meter terdapat di Lousiana - New Orleans, Amerika Serikat.

Pada tahun 1980-an, mungkin masyarakat Indonesia %u2013 khususnya Jawa Timur wabil khusus masyarakat Pulau Madura merasa aneh mendengar gagasan mengenai jembatan Surabaya %u2013 Madura, yang terbukti kini sudah membujur 5,6 km di atas laut Selat Madura. Jika melihat panjang Lake pontchartrain, 38.420 meter di Lousiana - New Orleans, AS, maka kita sudah tidak terheran-heran lagi dengan gagasan JSS yang hanya 31.000 meter.

Bisa jadi, ini adalah tonggak kedua dibangunnya jembatan panjang di Indonesia setelah Jembatan Suramadu 5,6 km. Dan, sangat mungkin tonggak ketiga, keempat, ke lima dan seterusnya dibangun, untuk menghubungkan NKRI yang sejatinya terdiri dari gugusan pulau-pulau. Pulau Sumatera sangat mungkin dihubungkan dengan Kalimantan melalui pulau Bangka %u2013 Belitung. Atau Jawa %u2013 Kalimantan melalui jembatan gugusan kepulauan seribu. Semua akan menjadi mungkin bila dipikirkan dan dikerjakan secara sungguh-sungguh.

Selain sebagai pemersatu NKRI, jembatan phisik JSS yang bakal memiliki panjang 31 Km dan lebar 60 meter juga akan menjadi jembatan ekonomi yang sangat berarti. Bukan hanya mobilitas orang, tapi intensitas pergerakan barang juga akan semakin deras. Sejauh ini Indonesia berpenduduk 260 juta jiwa. Namun kurang lebih 60% penduduk tinggal di Pulau Jawa yang luasnya hanya sekitar 6% dari seluruh wilayah Nusantara. Dibukanya JSS bisa jadi pergerakan penduduk Jawa ke Sumatera menjadi lebih banyak sehingga konsentrasi penduduk secara nasional bisa lebih merata.

Perhubungan antar pulau Jawa - Sumatera selama ini dilakukan dengan kapal laut dan pesawat terbang. Namun kedua sarana tidak lepas dari pengaruh cuaca, angin, kabut, arus laut, serta kondisi siang dan malam. Banyaknya permasalahan transportasi terutama pada penyeberangan Merak %u2013 Bakauheni harus diakui sangat berpengaruh pada lambannya perekonomian Sumatera. Dari latar belakang inilah JSS digagas. Phisik JSS panjangnya 31 km, lebar 60 meter, dana berasal dari Konsorsium, diperkirakan menelan Rp150 %u2013 200 triliun. Pembangunan JSS diperkirakan dimulai 2015 dan dioperasikan 2030.

Transportasi barang dan jasa antara Jawa dan Sumatera saat ini, melalui penyeberangan Selat Sunda sudah sangat padat dan juga sangat tergantung pada kondisi cuaca,kapasitas kapal feri, serta waktu tempuh yang cukup lama. Sejak resmi beroperasi 1 Juni 1981, lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni nyaris selalu gagal dalam mengantisipasi perkembangan dan penambahan volume kendaraan. Sehingga munculah rencana pembangunan JSS sebagai solusi dari berbagai permasalahan yang ada.

MANFAAT JEMBATAN SELAT SUNDA

Secara geografi, JSS dapat menghubungkan pulau Jawa dan pulau Sumatera dalam satu kesatuan yang dihubungkan dalam jalur darat. Sehingga batas wilayahnya dapat ditentukan dengan batas darat. JSS juga dapat mempermudah akses dalam perpindahan penduduk dari pulau Jawa ke pulau Sumatera maupun sebaliknya, integrasi antar-pulau ini bisa memperbesar peluang pembauran, pemerataan penduduk dan kesejahteraan.

Pembangunan JSS memberi peluang perolehan untung ekonomi yang lebih besar karena distribusi hasil bumi dan produk dari pulau Sumatera ke pulau Jawa atau sebaliknya. JSS juga dapat berperan sebagai perekat NKRI dalam hal keseimbangan politis dan pertahanan keamanan sebagai dampak pemerataan kegiatan ekonomi antara pulau Jawa dan Sumatera. Secara aspek sosial dan budaya, JSS dapat bermanfaat untuk memudahkan akses interaksi dan komunikasi antara masyarakat kedua pulau sehingga masyarakat dapat saling memahami nilai-nilai sosial dan budaya masing-masing.

Secara ekonomi, JSS diyakini mampu memompa potensi ekonomi di Banten dan Lampung, termasuk peluang kerja dalam jumlah besar bagi masyarakat. Kementrian Pekerjaan Umum rencananya membentuk empat cluster di daerah Banten yang dinamai daerah strategis nasional. Daerah tersebut adalah cluster Bojonegoro, cluster Cilegon, Cluster Tanjung Lesung, dan cluster Maja.

Cluster Cilegon dan Bojonegara akan berfungsi sebagai lokasi industri dan pusat ekonomi. Sedangkan Custer Tanjung Lesung akan menjadi sentra pariwisata dan Cluster Maja nantinya dijadikan daerah pemukiman skala besar. Ini luar biasa. Sungguh luar biasa.

Namun demikian, pembangunan JSS bukan berarti tanpa resiko. Sebab gangguan angin yang terlalu kuat di selat Sunda bisa berisiko tidak baik pada badan jembatan yang tergantung pada kabel-kabel baja. Sebab badan jembatan cukup tinggi, yaitu 80 meter di atas permukaan laut sehingga tekanan angin cukup besar. Artinya JSS ini perlu disiapkan lubang-lubang di penyangga landasan untuk sirkulasi angin. JSS diduga masih akan stabil meski angin berkecepatan 24 km per jam.

Selain itu terdapat juga Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Namun para pakar teknik perancang JSS mengaku bersyukur dengan fakta bahwa Gunung Anak Krakatau meletus rutin hampir setiap tahun, artinya energi dan timbunan lava di dalam kepundannya dilepaskan secara teratur pula sehingga mudah untuk dihitung dan terukur. Diperkirakan Anak Krakatau meletus masih sekitar 200 tahun mendatang, sesuai siklusnya. Selain itu, jarak JSS dengan Anak Krakatau masih 50 Km.

Artha Graha Network, yang diserahi pengembangan kawasan dan infrastruktur Selat Sunda, mendapatkan jaminan konsesi berupa hak pengelolaan kawasan di Provinsi Banten dan Lampung. Pada konteks ini kedua kawasan sekitar JSS akan tumbuh sebagai kawasan industri dan komersial dan bisnis derivatif lainnya. Provinsi Banten dan Lampung akan memperoleh keuntungan langsung dari JSS, karena tingginya kontribusi ekonomi di kedua kawasan tersebut.

Hanya saja, sejak dini harus diperhitungkan oleh pemerintah mengenai persiapan infrastruktur lanjutan di sisi Sumatera pasca dibangunnya JSS. Harus dilakukan penataan RT/RW, di kawasan mana industri akan dikembangkan, dan kawasan mana pariwisata dan perdagangan akan dipusatkan. Ini harus dirancang sejak JSS belum dibangun. Jangan sampai seperti Madura pasca Jembatan Suramadu yang notabene hingga kini tidak diikuti pembangunan apapun di sisi Madura, kecuali hanya (jembatan itu) untuk pergerakan orang.

Secara panjang dan teknik, JSS bukanlah jembatan biasa. Ini puncak prestasi karya konstruksi nasional. Selain bisa menghubungkan dua pulau dengan latar belakang sosial %u2013 budaya yang berbeda, JSS juga bermanfaat sebagai jembatan ekonomi-bisnis, dan sebagai jembatan pendorong percepatan pembangunan perekonomian Sumatera secara keseluruhan. 

Sumber: http://whatindonews.com/id/post/6661 

add comment :

Message